52 Tahun NSI Berkarya Demi Kejayaan Indonesia Melalui Gerak Jalan Kerukunan

Jakarta(dbb) - Dalam rangka memperingati hari jadi ke-52 Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia (NSI) dan hari Sumpah Pemuda, NSI mengajak seluruh umat Buddha untuk selalu memberi manfaat bagi kemajuan dan kejayaan bangsa dan negara melalui gerak jalan kerukunan.
 
Gerak jalan untuk Merawat Kerukunan Umat Beragama Minggu pagi di halaman depan Kantor Kementerian Agama Jalan MH Thamrin No.6, Jakarta, Minggu pagi (6/11) dilepas langsung oleh Menteri Agama  Lukman Hakim Saifudin didampingi Sekjen Nur Syam selaku Plt Dirjen Bimas Budha, Karo Umum Syafrizal, Kapus PKUB Feri Meldi, Sekretaris Ditjen Bimas Buddha Caliadi di ikuti oleh 2.233 orang dengan mengitari jalan MH Thamrin, lalu berputar balik di lampu merah Sarinah dan finish di Kantor Kementerian Agama Thamrin kembali.
 
Menurut Mahapandita Utama Suhadi Sendjaja, selaku Ketua Umum NSI bahwa rangkaian acara peringatan 52 dimulai dengan kegiatan penataran spiritual 800 umat Buddha yang dilakukan pada tanggal 28-30 Oktober 2016 di Mahavihara Saddharma NSI, Taman Sari Bogor. Usaha pelestarian budaya juga dilakukan dengan menggelar festival tari nusantara yang menampilkan 11 tarian daerah dari berbagai Provinsi di Indonesia. Tak hanya itu, NSI juga bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, dalam mensosialisasikan gerakan gemar makan ikan, ungkap Suhadi.
 
Dalam kegiatan ini NSI menggandeng majelis agama Buddha dan unsur masyarakat umum, dengan  harapan menjadi upaya positif yang berdampak membangun suasana kerukunan di Indonesia. Gerak jalan kerukunan yang berselang dua hari setelah aksi damai 4 November 2016 lalu ini menjadi momentum penting untuk memulihkan dampak psikologis yang muncul akibat beberapa oknum yang tidak bertanggungjawab. “Kami berharap gerakan ini menjadi momentum untuk memulihkan situasi dan rasa percaya diri dari masyarakat, khususnya warga keturunan Tiong Hoa" tegas Suhadi. Semua rangkaian kegiatan ini adalah upaya kausalya (metode) NSI dalam mempraktikkan ajaran Buddha Niciren  khususnya menjadi manusia yang membalas budi. Momen berharga dalam gerak jalan kerukunan ini juga menjadi momen penting bagi kita semua, warga negara Indonesia, untuk berbakti bagi ketenteraman negara, kerukunan bangsa, dan menjaga citra baik bangsa Indonesia di mata dunia. Semuanya ini hanya untuk satu tujuan: Indonesia Jaya. “Dengan menghayati dan mengamalkan Dharma, kita bisa melaksanakan balas budi kepada orangtua, negara, masyarakat, dan Triratna (Buddha Dharma, Sangha). Sekarang bagaimana kita semua berdoa supaya Presiden dan para pemimpin bangsa sehat, supaya semua umat manusia (warga negara) bisa mencapai kesadaran terunggul yang dalam ajaran Buddha dijelaskan, yaitu setiap orang bisa bahagia, hidup rukun, tenteram, dan bahagia,” ungkap Suhadi Sendjaja
 
Menteri Agama dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap GJK NSI ke 52 ini, selain untuk memelihara kesehatan jasmani juga  dapat menjaga kerukunan umat beragama. Menag juga mengajak peserta GJK dan seluruh elemen bangsa agar dapat menjaga, membangun, dan memelihara toleransi, tenggangrasa, dan proaktif dalam menghormati yang ada pada orang lain. "Keragaman merupakan anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia, mari kita jaga apa yang sudah diwariskan para pendahulu yang telah meletakkan pondasi bangsa dengan keragaman," ucap Menag. Sering kali kerukunan terganggu karena agama menjadi dasar untuk menilai perilaku orang lain kepada kita. Untuk itu, Menag Lukman mengajak agar kiranya agama digunakan untuk landasan dalam bersikap kepada orang lain.
 
Tampak hadir dalam barisan GJK NSI ke 52 Ketum Walubi, Pengurus PHGI, Pengurus NU, dan Pengurus PHDI, pegawai Ditjen Bimas Buddha, serta ribuan masyarakat Buddha di wilayah Jakarta dan sekitarnya.