Caliadi: Keprotokolan Merupakan Kepanjangan Tangan Komunikasi dan Kordinasi

Jakarta (dbb) - Ditjen Bimas Buddha menggelar Bimtek keprotokolan dalam rangka meningkatkan pemahaman tentang kegiatan yang berkaitan dengan aturan dalam acara kenegaraan atau acara resmi yang meliputi Tata Tempat, Tata Upacara, dan Tata Penghormatan sebagai bentuk penghormatan kepada seseorang sesuai dengan jabatan atau kedudukannya dalam negara, pemerintahan, atau masyarakat.

Dirjen Bimas Buddha Caliadi yang hadir di dampingi Kasubdit Perguruan Tinggi Parwadi hari Rabu (6/9) menyampaikan apresiasi bahwa kegiatan protokoler menjadi sumber rujukan dalam melaksanakan suatu kegiatan agar berjalan dengan baik dan sukses.

Caliadi menegaskan,  "Keprotokolan identik dengan penyambutan tamu dan merupakan kunci utama suksesnya acara, untuk itu jaga etika dan estetika".

Langkah-langkah yang harus diperhatikan oleh seorang protokol sebagai berikut:
1. Bentuk panitia, suatu kegiatan tidak akan sukses tanpa kepanitiaan.
2. Buat jadwal agar  tidak lupa untuk melakukan yang direncanakan, melatih kedisiplinan agar bertindak tepat waktu dan bisa mengetahui apa yang harus kita lakukan selanjutnya.
3. Membuat surat undangan untuk tujuan tertentu maka surat undangan ini hendaknya dibuat dengan baik untuk memenuhi kaidah kesopanan, kebaikan dari surat undangan itu sendiri. Hal ini untuk menentukan siapa yang di undang dan tempat duduk,  jangan sampai tamu sudah datang tapi tempat duduk belum siap.
4. Komunikasi dan kordinasi sangat penting dilakukan kerja sama dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu agar satu dengan yang lainnya saling membantu mengisi dan melengkapi.              

Kegiatan yang  dilaksanakan selama tiga hari di ikuti oleh 60 orang peserta terdiri dari pegawai Ditjen Bimas Buddha dan pengurus Lembaga dan Majelis agama Buddha wilayah DKI Jakarta.

Tujuan kegiatan yang disampaikan oleh Kabag Keuangan dan Umum Sayit adalah memberikan pemahaman tentang prinsip-prinsip dasar keprotokoler secara benar bagi pegawai Ditjen Bimas Buddha dan Lembaga Keagamaan Buddha dalam melaksanakan tugas kedinasan sehari-hari maupun tugas kelembagaan dalam sebuah acara berjalan dengan baik namun tidak menggalkan nilai-nilai etika dan estetika.