40 Tahun Pengabdian Sangha Theravada Indonesia "Karuna Santi Hening Karta”

Medan (dbb) - Ribuan umat Buddha memadati Ballroom Lt. 2 Hotel JW. Marriot yang beralamat di Jalan Putri Hijau No. 10 Medan pada penyelenggaraan perayaan 40 Tahun Pengabdian Sangha Theravada Indonesia (STI) bertajuk tema “Karuna Santi Hening Karta” yang berarti Menebar Kasih Membangun Kedamaian. Tarian dan nyanyian mewarnai pembukaan acara seperti tarian khas Melayu Tapak Sirih, tarian Buddhis Triratna oleh umat Buddha Vihara binaan STI, Sabtu (17/11).
 
Dalam sambutannya Pembimas Buddha Kanwil Kementerian Agama Prov. Sumut Ketut Supardi mengajak seluruh umat Buddha untuk menjadikan perayaan ini sebagai renungan bersama bahwa empat puluh tahun yang lalu, pada tahun 1976 telah berdiri Sangha Theravada Indonesia (STI). Pendirian yang dipelopori oleh para Bhikkhu Indonesia ini merupakan wadah kehidupan bersama para Bhikkhu yang telah menghayati, memelihara dan melaksanakan nilai-nilai ajaran Buddha yang tertuang dalam Tipitaka. Wadah ini juga sarana memberikan pembinaan dan keteladanan kepada para Bhikkhu dalam meningkatkan penghayatan dhamma menjadi Bhikkhu yang berbudi luhur dan dapat membina kehidupan mental spiritual umat Buddha Indonesia. 
 
“Semoga pengabdian yang sangat luhur para pendiri STI memperoleh berkah termulia dan menghasilkan kualitas batin serta pencerahan sempurna,” ucap Ketut.
 
Pada kesempatan ini Ketua Umum STI Bhikkhu Subhapanno Mahathera memberikan apresiasi kepada para Bhikkhu, Samanera dan Athasilani yang hadir dalam acara ini serta para Bhikkhu lainnya dengan gigih dan bekerja keras, telah berdedikasi melakukan pembinaan di seluruh wilayah Tanah Air dengan jumlah binaan sebanyak 462 Vihara. Bhante mengapresiasi kepada keluarga besar Theravada Indonesia seperti Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (Magabudhi), Wanita Theravada Indonesia (Wandani), Pemuda Theravada Indonesia (Patria) dan seluruh umat Buddha yang telah memberikan dukungan baik dalam bentuk materi, tenaga maupun pikiran dalam upaya menyebarkan dan melestarikan ajaran Buddha di masyarakat sehingga dapat dirasakan manfaatnya, semoga jasa kebaikan yang dilakukan dapat memberikan kebahagiaan pada masa saat ini dan masa yang akan datang.
 
Saat menyampaikan Pesan Dhamma Wakil Kepala STI Bhikkhu Subalaratano Mahathera menyampaikan sabda Buddha dalam Mahaparinibbana Sutta bahwa “Dhamma dan Vinaya yang telah kuajarkan itulah yang akan menjadi gurumu setelah aku tiada.” Dhamma ajaran luhur guru agung dan Vinaya adalah ajaran kemoralan yang menjadi landasan kehidupan umat Buddha dapat menjadi pedoman kita dalam menghadapi tantangan/kesulitan kehidupan ini. Bhante mengatakan Dhamma memberikan jawaban dan petunjuk yang tepat dalam mengambil keputusan untuk mengatasi persoalan hidup kita masing-masing.
 
“Dhamma yang sangat luas dibabarkan dengan berbagai cara oleh guru agung, semuanya mempunyai makna yang sama yaitu Metta, cinta kasih yang tulus kepada semua makhluk dan Vimuti, kebebasan dari nafsu rendah yang menyeret kita dalam kemerosotan moral,” jelas Bhante Subhala.
 
Selanjutnya Bhante mengatakan bila di dalam masyarakat timbul ketegangan atau peperangan yang mengorbankan jutaan orang, yang dapat menyelamatkan hanya Dhamma bukan harta kekayaan ataupun senjata. Hanya cinta kasih yang tulus yang menyelamatkan dunia. Karena itu, bila terjadi keretakan atau ketegangan dalam masyarakat yang menimbulkan rasa takut dan keresahan, bila kita mempunyai cinta kasih yang tulus maka ketenteraman dan kedamaian pasti muncul. Tanpa adanya cinta kasih, kecerdasan seseorang bisa digunakan untuk menghancurkan dunia dan untuk melakukan kekejaman.
 
“Marilah kita tumbuhkan cinta kasih yang tulus kepada semua makhluk berdasarkan pada Loka Dhamma Hiri dan Ottapa yaitu rasa malu berbuat jahat dan takut akan akibat perbuatan jahat,” ajak Bhante.
 
Selain itu juga harus mengembangkan Karuna adalah kesediaan membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Berikutnya Mudita adalah ikut berbahagia melihat orang lain bahagia. Upekkha atau keseimbangan batin yang membawa ketenteraman dan kedamaian dalam diri, inilah tugas kita untuk membangun Brahma Vihara sebagai konstruksi batin sehingga tercipta kerukunan dan kebersamaan dalam kehidupan beragama dan berbangsa.
 
Sangha Theravada Indonesia mengikuti tradisi pada masa Buddha Gotama yang berpedoman dari Tipitaka Pali, perayaan 40 Tahun Pengabdian STI telah dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia. "Untuk wilayah Sumatera pada tanggal 17 Desember 2016 ini dilaksanakan di Kota Medan. Adapun rangkaian acara pada perayaan ini adalah selanjutnya pada tanggal 18 Desember 2016 melaksanakan kegiatan Pindapata oleh para Bhikkhu STI yang hasilnya sebagian akan disumbangkan kepada masyarakat yang terkena musibah gempa bumi di Aceh. Pada tanggal 19 Desember 2016 para Bhikkhu STI melakukan kunjungan ke Replika Pagoda Shwedagon di Taman Alam Lumbini Brastagi," ungkap Ketua Umum Panitia Penyelenggara, Bhikkhu Indaguno Thera.
 
Acara ini turut dihadiri oleh Penyelenggara Buddha Kota Medan Pdt. Burhan, Anggota DPRD Kota Medan Hasyim, pendiri STI Cornelis Wowor, perwakilan Sangha Thailand Bhikkhu Wongsin Labiko, Ketua PP Magabudhi Dharmanadi Chandra, Ketua DPP Magabudhi Sumut Rudi Hardjon Dhammarajadasa, Pengawas DPD MBI Prov. Sumut Ir. Oni Hindra Kusuma, Ketua DPD Majabumi Tanah Suci Sumut Solihin Candra, Pengurus Walubi Sumut Toni, Pengurus Majelis Zhen Fo Zhong Kasogatan Wilson Wirya, Pengurus DPD Mapanbumi Ang Pun Siong, Pengurus Magabudhi, pengurus Wandani, pengurus Patria Wilayah Sumatera Utara, Jambi, Kepulauan Riau, Bangka Belitung dan Lampung.